Tubuh Mungilnya menggigil kaku… ia duduk di sebrang trotoar, sambil
terus menggigil kedinginan.. tiba tiba dua orang sosok berbadan tegap
dan gelap mendekatinya
“Dasar Anak gak tau diri kamu!!!, berani beraninya kamu coba kabur…”
Gadis kecil itu hanya terdiam sambil terus kedinginan, mata bulat besarnya sayu… kelopak matanya membengkak…
Dua orang pria itu pun membawanya ke sebuah bangunan tua yang setengah
jadi di sudut kota sambil terus memaki dan menendangi gadis tersebut.
Sampailah mereka ke dalam ruangan besar yang pengap itu, di sana
terdapat puluhan pasang mata yang memandang ngeri beserta pilu terhadap
gadis itu, ia masih ditendangi dan sesekali didorong kepalanya oleh
kedua pria setengah baya itu. Beberapa kali ia merintih, namun tampak
rintihan itu berusaha ia simpan… Entah sampai kapan ia bertahan, sudah
banyak darah yang bercucuran dari ujung bibirnya.
“kalian lihat ini, ini yang akan kalian dapat, apabila mencoba lari dari
sini… dasar wanita sialan! sampah!” masih, wanita itu masih terus
terdiam kaku… ia ditendangi lagi, bertambah miris hati puluhan pasang
mata yang melihatnya.. pilu bercampur kasian dan rasa takut.
Pria kedua menarik bajunya, ia merogoh-rogoh saku bajunya… mencari-cari sesuatu yang diinginkannya
“Sialan! apa yang dapat kau bawa? hanya tubuh sampahmu ini!” ucap pria
itu sambil meludahi gadis yang tak berdaya itu. Gadis kecil itu membasuh
ludah pria itu dengan tangannya, sesekali merintih kesakitan.
“Kau harus menebusnya, sudah 4 hari kau lari dari sini, dan tidak
membawa sepeser uang pun, besok… kau harus membawa storan 5 kali lipat
dari biasanya. aku tak mau tau!” lagi, ia ditendang dan diludahi…
Pria-pria tak berhati itu pergi meninggalkannya sambil menatap tajam setiap pasang mata yang berada di sana..
Asih membawa gadis itu ke dalam ruangan pengap yang tak layak disebut
sebagai kamar, tapi mereka menyebutnya kamar. Gadis itu dibaringkan
asih… secepatnya asih mengambil kain basah untuk membasuh luka gadis
itu. Namun, belum siap darah yang melekat itu dibersihkan, gadis itu,
menolak untuk dibersihkan lagi.
“Kau kenapa? kenapa kau diam saja? aku heran dengan mu… kau selalu diam apabila disiksa oleh Burhan dan Yanto…”
Namun, gadis itu kembali diam saja
“Jangan seperti ini, aku dan yang lainnya tak tega melihatmu… kau gadis
yang baik… tapi kenapa kau dengan sadarnya ingin bekerja di Neraka ini,
padahal kau tau apa resikonya… besok aku kan mencari storan lebih, akan
kubagi denganmu, agar kau bisa membayar storan mu”
Masih dan masih ia masih diam, entah apa yang ia fikirkan, pandangannya
terlihat kosong dan senyap, sesekali ia menggenggam tangannya, sambil
merintih kecil.
“Jawablah aku, berbicaralah… aku tak butuh diam mu… aku tau aku tak
dapat membantu apa-apa bagi mu tapi aku pun manusia, aku tau apa yang
kau rasakan, aku pernah disiksa seperti itu…”
Dia masih terdiam, tak berbicara ataupun bergeming sedikitpun.
“Ya sudahlah, mungkin kau masih belum percayai ku… aku mengerti… istirahatlah kau… besok hari yang berat untukmu”
Asih pun pergi meninggalkan gadis itu.
Keesokan harinya, sebelum para penghuni lain bangunan itu membuka
mata, gadis kecil itu sudah berlalu lalang di jalanan, mengamen dan
membersihkan kaca-kaca mobil yang berhenti di lampu merah.
Siang pun merapat, baru Rp.30.000 uang yang didapatnya, ia masih harus
mencari uang yang lebih banyak, sengaja ia tak makan agar uangnya tak
berkurang sedikitpun. Dipegangnya perut kempisnya itu, sambil merintih
kelaparan. tapi, sedikitpun ia tak bergeming untuk membeli makanan.
Sembari mengamen, ia melirik-lirik ke tong sampah restoran di ujung
jalan, berharap ada makanan sisa. tapi sayang, pemulung telah duluan
memungutnya. Ia terus tersenyum kepada setiap pengendara sambil
melantunkan lagu-lagu dari suaranya yang merdu, dan terus berharap dapat
membawa uang yang cukup untuk membayar setorannya kepada Burhan.
Senja pun merayap, ia duduk di pinggir jalan sembari menghitung
pendapatannya. Masih terlalu jauh dari cukup, padahal ia telah berusaha
sekuat tenaga. Ia membasuh peluhnya sembari menatap langit, tiba-tiba
asih datang, dan menyodorkan uang sepuluhribuan. Gadis itu menunduk
sembari menggeleng kecil.
“Ayolah ambil… kau pun sering membantuku, kau ingat ketika uang setoran
ku terpakai untuk membeli obat dulu? kau kan yang membantuku? kau
berikan uang yang sekiranya akan kau pakai untuk membeli makan mu
kepadaku, agar aku tak disiksa oleh Burhan, Pria bajingan itu…!
keparat!”
Seketika, pandangan gadis itu berubah menjadi tajam terhadap asih, lalu
ia berlari meninggalkan asih asih hanya terdiam bingung melihat gadis
itu, asih tak habis fikir, kenapa gadis itu terlalu lemah dan berbeda
dari biasanya.
Kaki kecil gadis itu berjalan mendatangi Burhan yang sedang asik
bermain judi dengan teman-temannya… Ia menyodorkan Uang yang didapatnya
hari itu. Secepatnya Burhan menghitung uang yang baru saja diberikan
gadis itu.
“Sialan! aku bilang setoranmu untuk 5 hari… kau fikir aku main-main
dengan perkataanku?” Burhan menarik rambut gadis itu, sehingga tubuhnya
sedikit terangkat, lalu menghempaskan tubuh mungil itu ke lantai…
“Persetan dengan Umurmu, Persetan dengan wajah polosmu, ataupun
luka-lukamu…” lagi, ia ditendangi dan ditampar, dan lagi! darah itu
bercucuran.
“Besok, kau harus dapat uang sebanyak setoranmu yang masih kurang, kalau
tidak…! mati kau kubuat!” Burhan kembali meneruskan permainan judinya,
sedangkan gadis itu berlalu pergi ke kamarnya.
Sesampainya ia di kamar, ia langsung berbaring… tubuhnya makin
menggigil dan kesakitan. Asih mendekatinya dan mengusap darahnya yang
bercucuran, namun segera mungkin gadis itu menolak dan membuang tangan
asih. Asih tak berkata apa-apa, ia hanya diam dan ikut berbaring di
samping gadis itu.
Keesokkan paginya, penghuni bangunan tua itu geger, Gadis kecil itu
tiada… tiada dengan beribu luka di sekujur tubuhnya, Asih menangis pilu
sambil memegang secarik kertas yang berbercak darah. Burhan datang
dengan panik. Ia gelagapan dan bingung.
“Cepat, Cepat kalian kubur Mayatnya di belakang gedung, aku tak mau mayat ini masih ada di sini.”
Asih mendatangi Burhan dan menyerahkan secarik kertas penuh noda darah
itu. Burhan keheranan dan tak mengerti, lalu ia membaca kertas itu
^^ Ayah…Ini Aku Alya, Anakmu…
Mungkin kau tak hafal lagi rupaku. sebab, sewaktu kau pergi… aku masih berumur 4 tahun.
Aku masih ingat lembut tanganmu Ayah, masih ingat kecupan hangatmu…
Aku masih ingat dekapanmu… Karena kau Ayahku kemarin, sekarang, nanti dan selamanya.
Ayah… Ibu telah meninggal, Ia terkena penyakit kanker rahim.
Berdua kami di rumah kecil itu selalu menunggumu, berharap kau akan
datang… Bukan pengharapan untuk membawa uang banyak, tapi pengharapan
dapat bertemu dan melepas rindu denganmu Ayah.
Berbekal alamat dari pak kades yang dulu pernah tak sengaja melihatmu di Jakarta, aku datang ke sini… aku ingin dekat denganmu…
Aku yakin kau tak pernah benar-benar melupakanku. Kau tak pernah benar-benar meninggalkanku.
Tak butuh begitu akrab denganmu ayah, cukup dengan melihatmu setiap hari saja, bagiku sudah cukup.
Aku ingin diciumimu lagi Ayah, seperti dulu… tak peduli bau asap bajumu,
tak peduli sebau apa keringatmu… Aku rindu kecupanmu Ayah.
Aku bahagia ayah, sebab di detik-detik terakhirku… aku masih bisa melihatmu… Aku menyayangimu Ayah…
Maafkan segala kesalahanku ^^
Mendadak, airmata berjatuhan dari sudut mata Burhan, Ia memeluk jasad
anaknya dengan berjuta rasa bersalah… Ia menciumi setiap kulit anaknya.
Mengusap-usap wajah kakunya… membasuh luka-luka nya yang masih segar.
Digendongnya tubuh anaknya yang mungil itu.. sembari terus menciuminya.
Tangisnya makin menjadi, wajahnya makin basah dengan air mata. Terlihat
berjuta penyesalan dan rasa bersalah… Didekapannya itu, adalah anaknya
yang sekian tahun dirinduinya namun sekian tahun jua ditelantarkannya.
tersilap di fikirannya, rasa amarah yang amat besar pada dirinya
sendiri. Karena Ia yang telah membunuh anaknya sendiri. Teringat ia,
setiap perlakuan siksa yang ia lakukan terhadap anaknya, hinaan, cacian,
makian, tendangan, tamparan, pukulan dan semua siksaan perih darinya.
Berpasang mata melihatnya sambil menahan haru dan tangis.. .Mereka tak
tau harus bersedih kasian terhadap Burhan atau memakinya dengan penuh
amarah.
“Sayang, maafkan ayah… maafkan ayahmu Ini Nak, maafkan ayah… kau
terkasih untukku selamanya nak.. Ayah berdosa tlah menelantarkanmu dan
ibumu, dan membunuhmu, tangan ayah tak berhak lagi menyentuhmu… maafkan
aku anakku..” Ucap Burhan lirih sambil terus meneteskan air mata.
Ia berdiri tegak sambil menggendong jasad anaknya, Dimandikannya
jasad anaknya, dishalatinya, dan Dikuburkannya tubuh gadis kecil itu.
Terlihat senyum manis Alya di peristirahatan terakhirnya. Dan Di atas
sana, Ia telah bahagia melihat Ayahnya menciuminya untuk terakhir
kalinya.
____________________________________________________________________
Bagus Cerpennya my sist, terus menulis yaa :)
BalasHapusTerimakasih Sis :-)))))
Hapus